Sabtu, 09 Mei 2015

Asal Usul Kampung Pahandut (Palangkaraya)






Palangkaraya - Pahandoet Abraham Badjas (oloh bakas) 1924
Kampung Pahandut merupakan salah satu kampung tertua di daerah aliran sungai Kahayan bagian hilir, seperti halnya kampung Maliku, Pulang Pisau, Buntoi, Penda Alai dan Gohong. Konon dikisahkan bahwa karena keadaan tanah lahan bertani dan berkebun di Lewu Rawi (kemudian di kenal dengan nama lewu Bukit Rawi) tidak cocok, tersebutlah pasangan suami-isteri Bayuh dan Kambang memutuskan untuk mencari kawasan lain. Mereka kemudian milir (mendayung perahu ke arah hilir) menyusuri Sungai Kahayan yang akhirnya menemukan tempat yang cocok, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik. Khabar tentang tanah yang cocok untuk kegiatan pertanian serta perbaikan kehidupan kedua suami istri tersebut terdengar oleh warga masyarakat lewu Rawi yang lain sehingga banyak sanak keluarga yang berasal dari kampung tersebut bahkan bahkan warga dari kampung/desa lain mengikuti jejak Bayuh dan Kambang pindah ke daerah baru itu. Akhirnya tempat tersebut berubah menjadi kawasan berusaha metik hasil hutan (bahasa Dayak Ngaju : eka satiar, sekaligus membuka lahan untuk bertani, yang disebut eka malan) kemudian berkembang menjadi tempat berusaha bertani dan berkebun lalu menjadi tempat permukiman. Dalam bahasa Dayak Ngaju hal yang demikian dinamakan Eka Badukuh, para warga menyebutnya Dukuh ain Bayuh, singkatnya permukiman itu disebut Dukuh Bayuh.
 kantor gub photo kantor_gubernur.jpg
Kantor Gubernur Tempo Doeloe
 http://static.panoramio.com/photos/original/13072643.jpg
Kantor Gubernur sekarang


Demikian Dukuh Bayuh (dukuh, Badukuh tidak sama dengan pengertian Dukuh dalam masyarakat Jawa, yang berarti lebih merupakan anak-desa atau desa cabang) semakin lama semakin berkembang maju, karena ternyata daerah itu dan sekitarnya memiliki sumber untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya antara lain lokasi pemungutan hasil hutan seperti damar, getah jelutung (pantung), getah hangkang, katiau, dan rotan serta perairan sungai yang kaya dengan berbagai jenis ikan terutama dikawasan Dataran Aliran Sungai (DAS) Sebangau.
Dalam pada itu Dataran pematang (tanah tinggi ) terbentang dari sungai Kahayan menuju sungai Rungan disebut tangking terkenal dengan nama Bukit Jekan (Jekan baca seperti jejer) dengan tanah berbukit di Tangkiling pada kawasan tepi Barat sungai Kahayan, sedangkan di bagian Timur, terdapat danau besar yang dinamakan Danau Tundai dengan jumlah dan jenis ikan yang melimpah. Pada kawasan hulu dan hilir dari Dukuh Bayuh tersebut juga terdapat puluhan danau kecil yang banyak ikannya. Semuanya merupakan sumber mata pencaharian dan kehidupan warga Dukuh Bayuh sekaligus menjadi daya tarik bagi pendatang dari daerah lain untuk ikut berusaha di dukuh itu. Maka berubahlah Dukuh Bayuh yang semula hanya tempat berusaha : bertani dan berkebun menjelma menjadi lewu (desa), dan Bayuh tetap sebagai Pambakal (Kepala Desa). Dukuh Bayuh yang berkembang maju tersebut telah menjadi Kampung (Desa) dengan kehidupan warga makmur dan sejahtera.
 https://onong35.files.wordpress.com/2013/01/pahandut.jpg

Kampung Pahandut merupakan salah satu kampung tertua di daerah aliran sungai Kahayan bagian hilir, seperti halnya kampung Maliku, Pulang Pisau, Buntoi, Penda Alai dan Gohong. Konon dikisahkan bahwa karena keadaan tanah lahan bertani dan berkebun di Lewu Rawi (kemudian di kenal dengan nama lewu Bukit Rawi) tidak cocok, tersebutlah pasangan suami-isteri Bayuh dan Kambang memutuskan untuk mencari kawasan lain. Mereka kemudian milir (mendayung perahu ke arah hilir) menyusuri Sungai Kahayan yang akhirnya menemukan tempat yang cocok, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik. Khabar tentang tanah yang cocok untuk kegiatan pertanian serta perbaikan kehidupan kedua suami istri tersebut terdengar oleh warga masyarakat lewu Rawi yang lain sehingga banyak sanak keluarga yang berasal dari kampung tersebut bahkan bahkan warga dari kampung/desa lain mengikuti jejak Bayuh dan Kambang pindah ke daerah baru itu.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs0HodqwD0leNxGstNrzhVMqqS9efFlPHbj_HQgiQHb_Dphho98X_JG1_vEjKzA71_-0uoN6udZRYFmkRMJtsH4pyQc20Nr4IChLitTcnjsJ6WNAkh___14HgadMBlQ-VnfFWB8NwcBSk/h120/architecture1.jpg
Akhirnya tempat tersebut berubah menjadi kawasan berusaha “metik” hasil hutan (bahasa Dayak Ngaju : eka satiar, sekaligus membuka lahan untuk bertani, yang disebut eka malan) kemudian berkembang menjadi tempat berusaha bertani dan berkebun lalu menjadi tempat permukiman. Dalam bahasa Dayak Ngaju hal yang demikian dinamakan Eka Badukuh, para warga menyebutnya Dukuh ain Bayuh, singkatnya permukiman itu disebut Dukuh Bayuh.
Demikian Dukuh Bayuh (dukuh, Badukuh tidak sama dengan pengertian Dukuh dalam masyarakat Jawa, yang berarti lebih merupakan anak-desa atau desa cabang) semakin lama semakin berkembang maju, karena ternyata daerah itu dan sekitarnya memiliki sumber untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya antara lain lokasi pemungutan hasil hutan seperti damar, getah jelutung (pantung), getah hangkang, katiau, dan rotan serta perairan sungai yang kaya dengan berbagai jenis ikan terutama dikawasan Dataran Aliran Sungai (DAS) Sebangau.
https://onong35.files.wordpress.com/2013/01/pahandut-2.jpg
Dalam pada itu Dataran pematang (tanah tinggi ) terbentang dari sungai Kahayan menuju sungai Rungan disebut tangking terkenal dengan nama Bukit Jekan (Jekan baca seperti jejer) dengan tanah berbukit di Tangkiling pada kawasan tepi Barat sungai Kahayan, sedangkan di bagian Timur, terdapat danau besar yang dinamakan Danau Tundai dengan jumlah dan jenis ikan yang melimpah. Pada kawasan hulu dan hilir dari Dukuh Bayuh tersebut juga terdapat puluhan danau kecil yang banyak ikannya. Semuanya merupakan sumber mata pencaharian dan kehidupan warga Dukuh Bayuh sekaligus menjadi daya tarik bagi pendatang dari daerah lain untuk ikut berusaha di dukuh itu. Maka berubahlah Dukuh Bayuh yang semula hanya tempat berusaha : bertani dan berkebun menjelma menjadi lewu (desa), dan Bayuh tetap sebagai Pambakal (Kepala Desa). Dukuh Bayuh yang berkembang maju tersebut telah menjadi Kampung (Desa) dengan kehidupan warga makmur dan sejahtera.
Sementara itu diceritakan bahwa terdapat seorang tokoh yang disegani oleh seluruh warga masyarakat Dukuh Bayuh karena mempunyai kelebihan yang sangat menonjol. Sang tokoh dianggap memiliki “kesaktian” dan “ilmu” serta oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai “orang pintar”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0x_cloljwyJfrKHy1OPuFSg6s9f43HWwjW-obgajk7z-bgFZhHNKKWNGKIvd8RNjgKbyj4ZXFIkeuC2EIWhLIxG0NVWBL4rXRTKqn8yqMgTJU8wnhKOO90QxxBA8xa2rF7FUgG9Ky3sYk/s400/Acara+potong+pantan+menyambut+tamu.+Tampak+Gubernur+Tjilik+Riwut+memakai+baju+dinas+resmi.jpg




Masyarakat Dukuh Bayuh bahkan masyarakat dari daerah lain sering minta pertolongan pada sang tokoh tentang berbagai hal. Sang Tokoh tersebut mempunyai anak-sulung laki-laki yang bernama Handut; dan sesuai adat orang Ngaju yang menganut ujaran teknonomi, yakni sepasang suami istri yang sudah berumah tangga dan sudah mempunyai anak, biasa disapa (dipanggil) secara akrab memakai nama anak sulung. Maka tokoh Desa Bayuh yang “berilmu” itu sangat akrab disapa Bapa Handut.
Ketika usianya sudah lanjut, Bapa Handut sering sakit-sakitan, dan ketika keadaan sakitnya sudah parah nampaknya sulit menghembuskan nafas terakhir. Warga Desa Bayuh merasa cemas dan prihatin atas penderitaan sang tokoh yang mereka hormati. Akhirnya kehendak Tuhan pun terjadi dan wafatlah Bapa Handut diiringi kesedihan dan isak tangis seluruh warga. Tokoh yang dihormati dan disegani telah tiada.
Guna mengenang dan menghormati sang tokoh yang sangat berpengaruh tersebut, semua warga masyarakat setuju Desa Bayuh diubah namanya menjadi Desa PAHANDUT (yang berasal dari kata Bapa Handut – panggilan akrab Sang Tokoh). Siapa nama asli Sang Tokoh itu, ternyata orang keturunan “asli” desa Pahandut tidak dapat memberi jawaban.
dinas pu photo dinas_pu.jpg
Dalam arsip Pemerintah Hindia Belanda nama Desa Pahandut tercatat dalam laporan Zacharias Hartman, seorang pejabat Pemerintah Hindia Belanda yang melakukan perjalanan menyusuri Sungai Kahayan dan Sungai Kapuas pada Bulan Oktober 1823. Dalam laporan perjalanannya, Orang Belanda pertama yang langsung menginjakkan kaki pada DAS Kahayan dan Kapuas tersebut menyebutkan Desa Pahandut sebagai salah satu desa yang dikunjungi.

Keberadaan Kampung Pahandut juga dilaporkan oleh para misionaris (para pengabar Injil) dari Jerman. Pada tahun 1859, Kampung Pahandut tercantum dalam peta yang dibuat para misionaris tersebut, dan Kampung Pahandut merupakan salah satu pangkalan (stasi) dari kegiatan penyebaran agama Kristen di sepanjang Sungai Kahayan. Laporan selanjutnya dari para misionaris menyebutkan bahwa pada tahun 1896, Misionar G.A. Alt bertugas di Stasi Pahandut, dan telah terbentuk jemaah Kristen dengan berdirinya bangunan gereja di Kampung itu. Letak bangunan gereja tersebut diperkirakan berada di Jalan Kalimantan sekarang. Pada tahun 1974, bangunan gereja yang terletak di tengah jalan tersebut, dibongkar untuk keperluan pembangunan dan pengaspalan jalan.
Dari notulen rapat Tumbang Anoi (tahun 1894) disebutkan bahwa di kampung Pahandut telah berdiri sebanyak 8 (delapan) buah rumah panjang (betang – rumah adat suku Dayak). Jika satu rumah betang berisi 5 (lima keluarga), maka paling sedikit Kampung Pahandut pada waktu itu telah dihuni oleh 40 keluarga. Ini berarti, kampung itu sudah cukup ramai.


Ngabe Anum Soekah
Ikhwal pasangan suami-istri Bayuh-Kambang, mereka mempunyai 2 orang anak laki-laki, yang sulung bernama Jaga sedang adiknya bernama Soekah. Bayuh sampai hari tuanya tetap dipercayakan sebagai Kepala Desa Pahandut dan di usia senjanya, Bayuh mengharapkan salah satu dari kedua putranya untuk menggantikannya sebagai kepala kampung. Jaga sebagai anak tertua (sulung) tidak dapat menolak. Sebenarnya Jaga mengharapkan adiknya, Soekah, yang menggantikan kedudukan/jabatan ayah mereka, namun karena Soekah menolak dengan alasan, dia masih mau merantau (mengembara alias berkelana), akhirnya Jaga diangkat menjadi Kepala Kampung Pahandut (Pambakal).
http://www.travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2015/04/sandung_ngabe_sukah_3-700x525.jpg
Sandung Ngebe Sukah


Sekembali Soekah dari pengembaraannya dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Pahandut, Soekah terpilih menjadi Pambakal/Kepala Kampung Pahandut menggantikan kakaknya, Jaga. Dalam kedudukannya sebagai Kepala Desa Pahandut, atas jasa-jasanya dalam memimpin dan membina Desa Pahandut, sehingga seluruh warganya dapat menikmati kehidupan makmur dan sejahtera, Pemerintah Hindia Belanda memberi gelar NGABE ANUM kepada Soekah. Dengan demikian, Pambakal Desa Pahandut adalah Ngabe Anum Soekah. Namun sebutan yang lebih terkenal dalam masyarakatnya adalah sebutan akrab tetapi mengandung rasa hormat yaitu Ngabe Soekah. Berdasarkan informasi H. Basrin Inin, pada masa kepemimpinan Ngabe Soekah, Kampung Pahandut menjadi kampung yang paling ramai dikunjungi pendatang dan tercipta perdamaian, keamanan dan kenyamanan dari penduduknya yang berasal dari berbagai suku, ras dan agama.3 Sandung Ngabe Soekah terletak di pertigaan Jalan Darmosugondo dan Jalan Dr. Murjani (di depan
terminal sementara). Sebelumnya telah didirikan sandung oleh Bayuh pada tahun 1783, kemudian dipugar menjadi lebih besar oleh Ngabe Soekah pada tahun 1848. Pada waktu itu, lokasi sandung Ngabe Soekah ini dinamakan dengan Bukit Ngalangkang.
Di kemudian hari banyak peristiwa mengambil tempat di Bukit Ngalangkang ini misalnya pengumuman nama Kota Palangka Raya dan peresmian Kotapraja Palangka Raya sebagai daerah otonom.4 Pada masa kepemimpinan Ngabe Soekah, salah seorang cucunya yang bernama Herman Syawal Toendjan (HS. Toendjan) diangkat menjadi Damang. Sesudah Ngabe Soekah berusia lanjut, ditunjuk cucunya yang lain yang bernama Willem Dean sebagai kepala kampung selama 2 tahun, selanjutnya sekitar tahun 1940 diangkat Abd Inin (anak ketiga dari Ngabe Soekah) sebagai kepala kampung yang baru. Abd Inin (kepala kampung) dan HS. Toendjan (Damang), berkenalan dengan Tjilik Riwut dalam perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertemuan kembali ketiga sahabat tersebut terjadi lagi sekitar tahun 1957, ketika Tjilik Riwut beserta 7 orang tokoh yang ditugaskan untuk mencari ibukota Propinsi Kalimantan Tengah berkunjung ke Kampung Pahandut.




pahandut_1ab
Kampung pahandut dilihat dari atas (sekarang)

(sumber: citrabahana.blogspot.com dan onong35.wordpress.com)






Rabu, 06 Mei 2015

Tingak Uluh Bakas


http://cdn.klimg.com/vemale.com/headline/650x325/2014/04/5-hal-yang-perlu-direnungi-tentang-kasih-sayang-orang-tua.jpg
Nak, mungkin ikau dia katawan narai je tege tu huang atei bapam...sama kilau aku huran dia katawan angat ah jadi ije biti uluh bakas. Katawung kuh dengam dia badi aku handak mangekang ikau... mungkin ikau rise ataua basingi dengam tingak ajar bilang handau hamalem, sama kilau aku huran rise kea...tapi aku wayah tuh harun katawan buhen bue tambim maningak majar aku kilau te limbah kea aku jadi uluh bakas. 
Nak... atei kuh mikeh amun ikau lambat buli kan huma dia kilau je biasa, aku mikeh tege narai-narai dengam intu jalan. Aku mikeh amun ikau bakawal dengan uluh je tege niat dia bahalap dengam.. aku mikeh amun ikau tame lingkungan pergaulan je sala tu luar kanih.... huang atei kuh aku bapam sanggup jadi narai bewei, bahkan aku bapam sanggup matei amun jite je perlu akan mangalindungg ketun.. asal ketun tau belum sanang mangat.. atei kuh pehe awi ikau dia ulih mamaham narai maksud je huang kuh akam. Mungkin kea ketapas kuh sebagai uluh bakas dia ulih tarus manumun kahandak muh nak, Terlepas bara katapas kakurang kuh sebagai uluh bakas atawa ikau rise atau dia, entah ikau basingi, entah ikau mahamen, dengan ikey.. Tapi ikau handak katawan narai je awi ikey uluh bakas muh uras akan kahalap akan ketun kareh... dia balentas aku tarus balaku doa uka Hatalla mahaga ketun... Nak... dia cukup auh kuh akan manggambar narai je tege tu huang atei kuh tahiyu ketun dan aku yakin ikau dia ulih akan mangerti kia... tp kareh amun ikau kea jadi uluh bakas kilau ekey tuh... metuh te ikau akan katawam narai je ingkeme ikey uluhh bakas muh NAK......


http://3.bp.blogspot.com/-yVxWFzTzRdM/UOj9Bkm3wFI/AAAAAAAAAEI/pPgnoKU8PE8/s320/cinta-orangtua1.jpg

Nak...

 

Senin, 04 Mei 2015

Manjaga Himba Akan Anak Jarian


 
Ketika anda berkumpul dengan keluarga dan teman-teman untuk menikmati makanan hangat di sebuah acara liburan, rencana anda mungkin terfokus pada duduk mengelilingi sebuah meja, di depan televisi menonton pertandingan besar, atau di dalam pusat perbelanjaan.

Menjaga Kelestarian Hutan

Kalimantan Tengah merupakan provinsi terbesar di Pulau Kalimantan, luasnya sekitar 253.800 km² dimana sebagian besar wilayahnya adalah hutan. Bagian utara adalah pegunungan yang sulit dijangkau, bagian tengahnya merupakan hutan tropis yang lebat. sedangkan wilayah selatan adalah rawa dengan banyak sungai. Iklim di Kalimantan panas dan lembab. 
Hutan adalah paru-paru dunia yang sangat penting bagi kehidupan kita. Hutan merupakan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Saat ini, jumlah hutan di dunia semakin berkurang, terutama di Indonesia. Masyarakat terus menerus mengambil sumber daya alam yang ada di hutan tanpa menjaganya. Pohon-pohon ditebang untuk dimanfaatkan tanpa menanam pohon lain sebagai pengganti, sehingga hutan menjadi gundul dan dapat menyebabkan tanah longsor atau banjir saat musim penghujan tiba. Selain itu, jika hutan habis maka bumi ini akan semakin panas dan alam tidak seimbang lagi.

Pentingnya Pelestarian Hutan

Hutan adalah paru-paru dunia. Seperti tubuh kita, paru-paru sangat penting untuk mengatur pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam tubuh. Begitu pula hutan, ia sangat penting bagi kehidupan kita untuk memberikan udara yang segar dan sejuk. Bukan hanya bagi kehidupan kita, tapi juga hewan-hewan yang tinggal di hutan. Jika hutan ditebangi untuk kepentingan manusia sendiri, selain suplai oksigen di bumi menjadi berkurang, hewan-hewan pun akan kehilangan tempat hidupnya. Oleh karena itu, pelestarian hutan sangatlah penting kita lakukan.

Seperti yang kita ketahui, belakangan ini bencana tanah longsor sering terjadi di Indonesia dan memakan banyak korban. Mengapa itu bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah gundulnya hutan sehingga menyebabkan pengikisan tanah dan memicu terjadinya tanah longsor. Lalu siapa yang harus disalahkan? Itu bukan pertanyaan yang tepat. Yang harus dipertanyakan adalah bagaimana cara menanggulanginya?

Cara Menjaga Kelestarian Hutan

Ada berbagai cara untuk menjaga kelestarian hutan:

1. Tidak mencoret-coret pohon dan bebatuan di hutan. Kebiasaan ini sangat sering terjadi. Padahal, mencoret-coret pohon dan bebatuan akan menutupi stomata atau tempat keluar masuknya udara dalam pohon dan bebatuan itu sendiri. Hal tersebut dapat mengganggu pertukaran udara dari sel tumbuhan ke lingkungan sekitar. Selain itu juga membuat keindahan hutan menjadi berkurang.

2. Tidak membuang sampah maupun puntung rokok di hutan. Sampah yang dibuang di hutan akan membuat hutan menjadi kotor. Yang lebih berbahaya adalah jika puntung rokok yang belum mati benar dibuang di hutan, maka dapat memicu terjadinya kebakaran hutan.

3. Kurangi penggunaan kertas berlebih. Apa hubungannya kertas dengan hutan? Tentu saja ada. Kertas dibuat dari getah pepohonan di hutan. Dengan menekan penggunaan kertas, penebangan pohon akan berkurang.

4. Sistem tebang pilih dan tebang tanam. Jika akan menebang pohon untuk dimanfaatkan, lakukan system tebang pilih yaitu dengan memilih tanaman yang akan ditebang. Pohon yang layak ditebang adalah yang sudah tua. Selain itu penebangan juga harus diberi jarak, bukannya satu tempat ditebang semua. Lakukan juga system tebang tanam, yaitu penebangan yang diiringi dengan penanaman pohon baru.

5. Mencegah penebangan liar. Saat ini kasus penebangan liar atau illegal logging semakin banyak terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, pengawasan hutan harus semakin ditingkatkan. Selain itu, diperlukan adanya hukum yang kuat bagi para pelaku karena telah merugikan Negara.

6. Melakukan reboisasi atau penghijauan. Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang telah gundul. Hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan hutan dan untuk mencegah terjadinya erosi, tanah longsor maupun banjir.

Itulah beberapa cara untuk melestarikan hutan. Marilah kita jaga kelestarian hutan kita. Melestarikan hutan sama halnya dengan menyelamatkan bumi kita, karena hutan dapat mengurangi pemanasan global atau global warming.

Manfaat Hutan

Tapi, anda mungkin berharap sesekali menghabiskan akhir pekan anda untuk berjalan-jalan di hutan. Bisa juga mengunjungi sebuah perkebunan dengan banyak pohon rindang di dalamnya atau mungkin taman kota untuk sekedar menghirup udara segar. Udara segar dapat menyegarkan dan dapat membantu memfokuskan kembali hal-hal yang perlu anda lakukan di liburan anda.
Bahkan jika kita tidak tinggal di dekat hutan, kita semua merasakan manfaat dari oksigen untuk pernapasan kita yang diberikan pohon setiap hari. Dibawah ini adalah 10 alasan mengapa kita harus bersyukur kepada hutan:
1. Menyerap dan menyimpan karbon – Karena pohon menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi kayu, di mana karbon tetap terikat selama ratusan atau bahkan ribuan tahun, hutan merupakan bagian penting dari sistem iklim bumi. Pohon yang tumbuh menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam akar, daun, dan tanah hutan.
2. Rumah bagi orang-orang – Tiga ratus juta orang di seluruh dunia secara aktif hidup di hutan dan tergantung pada mereka secara langsung sebagai sumber makanan, obat dan mata pencaharian.
3. Sumber pekerjaan dan mata pencaharian – Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada hutan sampai batas tertentu untuk mata pencaharian mereka, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sekitar 60 juta masyarakat adat sepenuhnya tergantung pada hutan untuk semua aspek kelangsungan hidup mereka. Dan sekitar 10 juta orang yang dipekerjakan dalam pengelolaan hutan dan konservasi di seluruh dunia.

4. Sebagai bahan untuk furniture, kertas, kayu bakar dan produk lainnya – Sekitar 30 persen dari hutan dunia digunakan untuk produk kayu dan produk non-kayu (seperti makanan, damar, obat-obatan, dll).
5. Habitat untuk mamalia, burung, serangga – Hutan adalah rumah bagi hampir setengah dari spesies di dunia, dengan beberapa keanekaragaman hayati terkaya ditemukan di hutan tropis. Serangga dan cacing membantu siklus nutrisi tanah. Banyak spesies langka yang terancam punah, seperti orangutan, gorila dan panda, tergantung pada keberadaan hutan lindung.

6. Mencegah banjir – Selama musim hujan, hutan dataran rendah membantu penyerapan air dan memperlambat aliran air, mencegah kerusakan tanah, properti dan bangunan. Hutan dataran rendah juga merupakan habitat yang spektakuler untuk berbagai satwa liar.
7. Konservasi tanah dan air – Pohon merupakan bagian penting dari siklus air. Dengan membantu memperlambat arus, memungkinkan air untuk terserap ke dalam tanah. Hutan dapat melestarikan persediaan air tanah yang sangat berguna baik itu untuk manusia sebagai air minum, maupun untuk ikan dan kehidupan air lainnya di dekat sungai. Pohon juga membantu menahan tanah tetap pada tempatnya, mengurangi erosi oleh air dan angin.

8. Mengatur iklim regional – Ketika pohon ditanam di kota-kota, mereka dapat membantu meringankan efek “pulau yang panas” dengan menyediakan naungan untuk rumah dan bangunan serta mengurangi penggunaan energi untuk pendingin udara di musim panas. Bila ditanam dengan strategis, mereka dapat memberikan hambatan angin yang efektif. Hutan besar juga berperan dalam pola cuaca, curah hujan dan iklim mikro. Hutan hujan Amazon, misalnya, mereka berperan dalam terjadinya hujan yang teratur untuk tanah di selatan, yang merupakan daerah pertanian produktif dan diperkirakan juga meningkatkan curah hujan di Great Plains Amerika Serikat.
9. Keindahan alam – pohon dan hutan merupakan sumber inspirasi manusia dan kenikmatan – bahkan jika dilihat dari jauh. Pohon adalah simbol kehidupan, dan di zaman modern ini, semua manusia bergantung pada pohon sebagai penopang lingkungan. Sebuah polling oleh The Nature Conservancy menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen orang Amerika melaporkan bahwa pohon memberi mereka perasaan damai dan ketenangan
.
10. Aktivitas outdoor – Kawasan hutan lindung dan taman kota seringkali digunakan untuk menjadi ruang bagi bermacam kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga (hiking, bersepeda), bird-watching, rekreasi, pariwisata atau kegiatan pendidikan. Berjalan di hutan pun bisa menjadi sumber pembaruan spiritual bagi banyak orang, melalui suara angin yang melewati pepohonan, suara burung hantu, gemerisik hewan kecil atau daun kering yang bergesekan.


sumber : http://jujubandung.blogspot.com/2013/06/menjaga-kelestarian-hutan.html
sumber foto: Nevi Aprillia Bambang

Minggu, 03 Mei 2015

Bukit Tangkiling Wisata Budaya

https://benyaminlakitan.files.wordpress.com/2014/12/bukit-tangkiling-4-rute-pendakian.jpg
Saat mereka singgah ke kampung ini terlihatlah oleh Kilin seorang wanita cantik yang membawa barang-barang hasil bumi untuk ditukarkan pada dagangan yang dibawa kapal miliknya. Saat itu lah Kilin jatuh cinta pada wanita itu.
 photo tangkiling2.jpg 
Legenda Batu Banama di Bukit Tangkiling (Kalimantan Tengah)
Bukit Tangkiling terletak kurang lebih 34 Km dari kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Bukit Tangkiling yang tingginya kurang lebih 500 m , dipercaya menyimpan berjuta legenda dan kekuatan magis. Berdiri kokoh, menjulang langit di perbatasan Kelurahan Banturung-Tangk­iling Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Perlu waktu kurang lebih 40 menit untuk mencapai puncaknya.
Tempat ini biasanya ramai dihari-hari libur karena banyak orang yang berekreasi ke tempat ini, di Bukit Tangkiling terdapat sebuah batu yang berbentuk seperti perahu, konon ceritanya pada dahulu kala batu ini adalah sebuah perahu yang berubah menjadi batu (basaluh) oleh yang Maha kuasa karena terjadinya sebuah pali (pantangan) ceritanya hampir mirip dengan legenda Sangkuriang dan Watu Gunung.
Konon, dahulu, daerah sekitarnya berupa sungai, seluas mata memandang, yang tampak air semata. Bukit dan daratan sekitarnya terbentuk karena kutukan.
*******
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzZyU646tmH1yAdrlf2NUwirp4pXn26CpFDG5aSZlnRqINMI4r_yxE32PCkMZYg7QPVZDC5xzpAvxLwdk8nwLv16MYZ3H75BCJlNhLRBs7HQVRHQADgn7vwiVOhEuTcN_NUhtTLzzRj9g/s1600/SAM_1344.JPGPada masa lampau Pulau Kalimantan merupakan bagian dari lautan yang daratannya hanya sedikit yaitu daerah tengah dan daerah timur pulau borneo sekarang. Saat itu terdapat kampung di daratan yang terletak di tepi Sungai Sebangau, hiduplah seorang seorang janda yang ditinggal mati suaminya dengan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun. Janda ini dikenal dengan nama Bawi Kuwu (berarti wanita cantik dan awet muda).

Pada suatu hari, ketika si anak sedang bermain bersama teman – temannya, dia merasa lapar dan pulang ke rumah untuk makan. Sesampainya di rumah, didapatinya ibunya sedang memasak nasi goreng yang digoreng tanpa minyak (bari sanga). Mencium aroma masakan yang sedap itu, si anak tidak sabar ingin segera makan. Dia menangis dan merengek-rengek­ pada ibunya... Bawi Kuwu mencoba untuk tidak menghiraukan rengekan anaknya, tapi lama kelamaan habis juga kesabarannya. Dengan marah dia mengayunkan solet (suruk : alat buat menggoreng) yang secara tidak sengaja menghantam kepala anaknya, sehingga mengalir darah segar. Si anak merasa kaget dan kesakitan, dia berlari keluar dari rumah, dia merasa ibunya sudah tidak menyayangi dirinya lagi.
Melihat anaknya yang lari keluar rumah, Bawi Kuwu segera mengejarnya tapi dia kalah cepat. Bawi Kuwu mencari anaknya ke sana kemari, tapi tidak berhasil menemukan anaknya juga. Dia menyesali dirinya karena telah memukul kepala anaknya yang menyebabkannya kehilangan anaknya satu-satunya itu.
****
bukit tangkiling photo DSC01062.jpgSementara itu si anak bersembunyi di atas kapal yang sedang singgah di dermaga. Kapal itu berasal dari Cina, yang membawa muatan dagangan keramik untuk dijual di kampung itu. Si anak tidak tahu bahwa kapal itu sudah selesai bongkar muat di dermaga itu. Sudah terlambatlah baginya untuk kembali ke kampungnya saat kapal itu melepas sauh dan berlayar kembali ke negeri Cina.
Saat Kapten Kapal berkeliling memeriksa kapalnya, dia menemukan si anak yang bersembunyi di balik suatu peti. Kapten itu bertanya, "Hai anak kecil, dari mana kamu berasal, dan mengapa kau ada di kapalku?"
Anak itu menjawab dengan gemetar ketakutan, "Saya melarikan diri dari rumah tuan..."
Kapten itu memandangnya dengan penuh selidik, "Mengapa kepalamu berdarah?"
Anak itu menjawab, "Karena dipukul oleh ibu saya, karena itu saya melarikan diri dari rumah, saya merasa bahwa ibu saya tidak menginginkan saya lagi."
Kapten itu kemudian berkata, "Baiklah, karena kau tidak mungkin kembali ke kampungmu, maka ku ijinkan kau untuk ikut kapalku. Tapi, kau harus bekerja seperti anak buahku yang lain."
Kemudian oleh Kapten kapal, anak itu dibawa menghadap Saudagar pemilik kapal itu. Saudagar menyuruh supaya luka di kepala anak itu dirawat sampai sembuh. Dan oleh Saudagar kapal, anak itu diberi nama Kilin. Kilin tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan kuat. Selain pandai, dia juga rajin bekerja.
https://benyaminlakitan.files.wordpress.com/2014/12/bukit-tangkiling-2-keramat.jpgSaudagar semakin sayang padanya, karena dia tidak mempunyai seorang anakpun, Kilin diperlakukan seperti anaknya sendiri. Kilin dididik dengan berbagai ilmu.
Setelah dewasa, Kilin pun dipercaya untuk berlayar ke negara-negara tetangga untuk menjual dagangan mereka. Bersama Kapten kapa yang menemukannya dulu, mereka berlayar dari negeri ke negeri, dari pulau ke pulau dan dari laut ke laut serta mengarungi samudera hingga sampailah mereka ke tempat kampung si Kilin tadi berasal, di tepi sungai Sebangau.
Segera Kilin menghampiri wanita itu dan bertanya, "Hai gadis cantik, siapakah namamu?"
Wanita itu menjawab dengan malu-malu, "Bawi Kuwu, tuan."
Kilin yang terpesona dengan kecantikan wanita itu bertanya, "Maukah kau menjadi istriku?"
Awalnya Bawi Kuwu enggan menerima lamaran Kilin yang masih muda itu, karena dia seorang janda. Tapi Kilin yang sedang dimabuk cinta, tidak peduli akan hal itu. Dia tetap berkehendak untuk mengawini wanita cantik itu. Setelah menikah ia membawa Bawi Kuwu ke kapalnya, pada saat itu kapal besar disebut dengan nama Banama oleh masyarakat Dayak dan pemiliknya disebut Bandar.
Sebelum berangkat tidur, Kilin merebahkan kepalanya di pangkuan Bawi Kuwu. Bawi Kuwu mengelus-elus kepala suaminya dengan lembut... Saat itulah dia menemukan bekas luka di balik rambut suaminya.
Bawi Kuwu bertanya, "Suamiku, mengapa ada bekas luka di kepalamu?"
Kilin menjawab, "Oh, luka itu aku dapat karena dipukul oleh ibuku dengan solet... karena itu pula aku melarikan diri dari rumah, karena aku merasa ibuku sudah tidak mencintaiku lagi! Untunglah aku bertemu dengan Saudagar Cina yang baik hati, yang mendidikku sampai aku dewasa..."
Betapa terkejutnya Bawi Kuwu mendengar cerita suaminya itu... dengan wajah pucat dia berkata, "Akulah ibumu yang memukulmu itu!"
Kilin bangkit dengan marah, "Bohong! Mana mungkin ibuku masih muda dan cantik seperti kamu? Ibuku pasti sudah tua dan keriput!"
Bawi Kuwu menjawab, "Kecantikanku ini adalah anugerah dari Ranying Hatalla."
Kilin menertawakan can berkata, "Bila yang kau katakan itu benar, biarlah Ranying Hatalla yang membuktikannya!­"
Esoknya Kilin menggelar upacara dengan mendirikan Sangkaraya. Banyak orang penduduk kampung itu yang diundang dalam upacara tersebut. Mereka beramai-ramai menikmati hidangan makanan yang disediakan di sana.
Di tengah upacara itu berlangsung, tiba- tiba datanglah angin ribut yang hebat dan awan tebal sekali.

Petir sambar menyambar, bunyi guntur bergemuruh, langit gelap gulita... terjadilah hujan badai yang sangat hebat.
Kilin segera berlari ke kapalnya yang berlabuh di sungai Sebangau. Di tengah badai itu, kapal (banama) yang dimiliki Kilin berubah menjadi batu besar yang bentuknya mirip seperti kapal, yang kemudian dikenal dengan nama Batu Banama.
Sangkaraya yang didirikan di tengah kampung berubah menjadi Bukit Tangkiling yang paling tinggi puncaknya, di sana terdapat Batu Kapit Dosa dengan Bawi Kuwu yang terjebak hidup-hidup di dalam batu tersebut.
Selanjutnya da semacam upacara penghormatan atau ritual yang dilakukan dekat batu itu, fungsinya meminta pengampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sesaji turut dihadirkan, terhampar bermacam kue tradisional dan membakar kemenyan. Semua yang hadir dalam upacara itu membaca doa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Menurut kepercayaan setempat, bila seseorang berbuat dosa, maka tidak akan bisa melewati sela kedua batu itu.
Sekarang ini Bukit Tangkiling ini berada di tepi Sungai Rungan dan di kaki bukit Tangkiling ada sebuah desa yang bernama Desa Tangkiling. Bukit Tangkiling kini telah menjadi objek wisata Kalimantan Tengah. Konon peristiwa ini terjadi pada masa dinasti Tang, maka lokasi peristiwa ini dinamai Tangkilin, penggabungan dari kata Tang dan Kilin, yang penyebutannya berubah menjadi Tangkiling.

Dari Tukang Kayu menjadi Presiden

Kata Bijak Abraham Lincoln Yang Abadi
Kata Bijak Abraham Lincoln 
Abraham Lincoln (1809-1865) adalah salah satu presiden terbesar dalam sepanjang sejarah kepresidenan di Amerika terutama karena upayanya dalam mempersatukan bangsa dari perpecahan, memperjuangkan kebebasan kaum budak, serta perjuangannya dalam mengatasi perang saudara di Amerika pada masa itu.
Kendati pada masa kecilnya pernah bekerja sebagai tukang kayu, tukang pos hingga penjaga kedai, berkat kegigihannya dalam memperjuangkan kebebasan demokrasi serta upaya kerasnya dalam menentang perbudakan membawanya menjadi seorang pengacara yang kemudian terjun ke dunia politik yang sedang carut-marut pada masa itu.
Abraham Lincoln sempat beberapa kali gagal dalam pencalonan hingga akhirnya dirinya terpilih menjadi orang nomor satu di Amerika. Lincoln tewas terbunuh pada tanggal 15 April 1865 oleh seorang penembak yang juga pemain sandiwara bernama John Wilkes Booth yang kemudian diduga memiliki gangguan jiwa. Kisah Abraham Lincoln merupakan kejadian pembunuhan presiden pertama kali di Amerika menyusul John F. Kennedy yang juga bernasib sama kemudian.
Kebebasan demokrasi yang dinikmati oleh Amerika hingga saat ini masih dianggap merupakan hasil upaya dan jasa besar yang dibawa oleh Abraham Lincoln selama menjabat menjadi presiden.

http://www.islamtoleran.com/wp-content/uploads/2014/12/abraham_lincoln_1_by_ipiranga-d5wxxil.jpg 

Kata Bijak Abraham Lincoln Yang Abadi

Berikut adalah kumpulan kata bijak Abraham Lincoln yang terkenal hingga saat ini:
“Jangan khawatir bila anda tidak diakui, tetapi berusahalah agar anda layak untuk diakui”
“Anda dapat membohongi semua orang dalam satu waktu, dan beberapa orang dalam setiap waktu, tetapi anda tidak dapat membohongi semua orang sepanjang waktu”
“Seorang sahabat adalah orang yang memiliki musuh yang sama seperti yang anda miliki”
“Ingatkan selalu bahwa tekad Anda untuk sukses adalah lebih penting daripada hal lainnya”
“Amerika tidak akan pernah dihancurkan dari luar. Jika kita goyah dan kehilangan kebebasan kita, maka itu dikarenakan kita yang menghancurkannya”
“Pada akhirnya, bukanlah tahun-tahun dalam hidup anda yang dihitung. Tetapi hidup anda dalam tahun-tahun andalah yang dihitung”
“Karakter adalah bagaikan pohon dan reputasi bagaikan sebuah bayangan. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan, dan pohon adalah wujud nyatanya”
“Pemerintahan ialah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, yang tak akan binasa dari muka bumi”
“Ketika saya berbuat baik, saya merasa baik. Ketika saya berbuat buruk, saya merasa buruk. Itulah keyakinan saya”
“Kekhawatiran saya bukanlah apakah Tuhan berada di pihak kita. Tetapi kekhawatiran saya adalah untuk berada di sisi Tuhan, karena Tuhan selalu Benar!”
“Kebanyakan orang bahagia karena mereka menjadikan pikiran mereka demikian”
“Sesuatu mungkin datang kepada mereka yang menunggu. Hanya saja sesuatu itu pergi terhadap mereka yang terburu – buru”
“Saya tidak terikat untuk menang, tetapi saya terikat untuk menjadi nyata. Saya tidak terikat untuk sukses, tetapi saya terikat dengan cahaya yang saya miliki. Saya harus berdiri bersama dengan siapapun yang yang berdiri di jalur yang benar, dan berdiri dengan mereka yang saat itu benar, dan berpisah dengannya ketika mereka mulai salah”
“Beri aku enam jam untuk menebang sebuah pohon dan aku akan menghabiskan empat jam pertama untuk mengasah kapak”
“Saya sangat percaya kepada orang, jika diberikan kebenaran, mereka dapat diandalkan ketika menghadapi krisis nasional. Dan kuncinya adalah membawakan mereka pada hal-hal yang nyata sedang terjadi”
“Pastikan bahwa anda meletakkan kaki anda di tempat yang tepat, lalu berdirilah dengan kokoh”
“Oleh karena masalah kita baru, maka kita harus berfikir dengan cara baru dan bertindak secara baru pula”
“Sebuah rumah yang membelah dirinya sendiri, takkan dapat berdiri”
“Aku mengingat doa ibuku dan mereka selalu saja mengiringiku. Mereka tetap tinggal dalam diriku sepanjang hidup”
“Hal terbaik mengenai masa depan adalah ia datang pada suatu hari pada suatu waktu”
“Biarkan presiden untuk menginvasi negara tetangga, ketika ia menganggapnya perlu untuk mengusir invasi, dan anda mengizinkannya untuk melakukan hal demikian, ketika ia dapat menganggapnya perlu untuk satu tujuan – dan anda mengizinkannya untuk menciptakan perang dalam kesenangan”
“Mereka yang menolak kebebasan kepada orang lain, maka kebebasan itu tak layak pula untuk dirinya”
“Filosofi dari ruang sekolah dalam satu generasi, juga akan menjadi filosofi di pemerintahan pada masa mendatang”
“Apapun diri anda, jadilah seorang yang hebat”
“Menyebut ekor sebagai kaki tidak akan membuatnya menjadi kaki”
“Mimpi ku adalah sebuah tempat dan waktu dimana Amerika akan sekali lagi terlihat menjadi tempat harapan terakhir di muka bumi ini”
“Hal – hal yang ingin kutahu ada di dalam buku, sahabat terbaik adalah orang yang akan memberikanku sebuah buku yang belum aku ketahui”
“Saya tidak menyukai orang itu. Oleh karena itu, saya harus mengenalnya dengan lebih baik”
“Saya mengerjakan hal terbaik yang saya tahu, hal terbaik yang saya bisa, dan saya bermaksud untuk melakukannya sampai akhir”
“Setiap orang menyukai sebuah pujian”
“Saya tak akan menjadi seorang budak pekerja, maka itu saya tak akan menjadi tuannya. Dan ini mengekspresikan ide saya tentang adanya demokrasi”
“Orang yang terlihat biasa-biasa saja adalah yang terbaik di dunia. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan begitu banyak dari mereka”
“Aku akan mempersiapkan diri dan suatu hari kesempatanku akan datang”
“Sepanjang hidup, aku telah mencoba memetik ‘thistle’ dan menanam bunga dimanapun bunga dapat tumbuh di dalam pikiran dan pemikiran”
(thistle = sejenis bunga)
“Aku menghancurkan musuhku ketika aku menjadikan mereka sebagai temanku”
“Saya seorang yang lamban, tetapi saya tak pernah mundur ke belakang”
“Perhatian terbesar saya bukanlah apakah anda telah gagal, tetapi apakah anda puas dengan kegagalan anda”
“Saya tidak terlalu memikirkan orang yang tak lebih bijaksana pada hari ini dibandingkan dirinya kemarin”
“Buku menunjukkan kepada seseorang bahwa pemikiran asli mereka bukanlah hal baru sama sekali”
“Hindarilah popularitas jika anda menginginkan kedamaian”
“Saya selalu menemukan bahwa belas kasihan lebih kaya dibandingkan dengan hukum yang ketat”
“Pernikahan bukanlah surga atau neraka, tetapi hanyalah penyucian”
“Aku tak pernah memiliki kebijakan, saya hanya melakukan yang terbaik setiap kali dan setiap hari”
“Sudah menjadi pengalaman saya, bahwa orang-orang yang tidak memiliki kejahatan memiliki kebajikan yang sangat sedikit”
“Tak peduli seberapa banyaknya kucing – kucing berkelahi, akan selalu ada banyak anak kucing pada akhirnya”
“Jika setelah anda kehilangan kepercayaan dari sesama, anda tak pernah bisa mendapatkan kembali pengakuan dan penghargaan dari mereka”
“Jika saya berwajah dua, akankah saya mengenakan yang satu ini?”
“Prinsip – prinsip penting haruslah memungkinkan, dan haruslah tidak fleksibel”
“Saya ingin melihat seseorang bangga dengan tempat dimana ia tinggal. Saya ingin melihat seseorang hidup sehingga tempatnya berada akan bangga terhadap dirinya”
“Saya berharap dapat berdiri cukup kokoh untuk tidak mundur, dan tidak maju terlalu cepat untuk menghancurkan masalah dalam negara”
“Ia yang memiliki hak untuk mengkritik, memiliki hati untuk menolong”
“Ada syair tua yang tak kuingat siapa penyairnya, berbunyi:  “Kebenaran adalah anak daripada waktu”
“Jika ini adalah kopi, bawalah saya teh. Tetapi jika ini adalah teh, bawakan saya kopi”
“Tak ada orang yang cukup baik mengatur orang lain tanpa persetujuan dari yang lain”
“Cara bagi orang yang masih muda untuk berkembang adalah meningkatkan dirinya dalam segala hal yang ia mampu, tanpa mencurigai bahwa setiap orang ingin menghalangi dirinya”
“Setiap kali saya mendengar seseorang berdebat mengenai perbudakan, maka saya merasakan suatu dorongan yang kuat untuk melihat seandainya perbudakan itu terjadi pada dirinya sendiri”
“Orang – orang ini meminta hal yang sama, keadilan dan keadilan saja. Yang sejauh ini dalam kekuasaanku, mereka dan yang lainnya, sudah seharusnya memilikinya”
“Aku tak tahu siapa kakekku dulunya. Aku lebih peduli untuk mengetahui bagaimanakah cucunya akan menjadi pada hari kelak”
“Jika ada sesuatu hal yang dapat dilakukan seseorang dengan baik, ku katakan biarkan ia melakukannya! Berilah dia kesempatan”
“Orang – orang akan menyelamatkan pemerintah, jika pemerintah itu sendiri memang mengizinkannya”
“Opini publik di negara ini adalah segalanya”
“Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menggambarkan orang lain sebagaimana mereka melihat diri mereka sendiri”
“Ketidakjujuran dan sanjungan merupakan saudara kandung”
“Ketika anda menangkap gajah dari kaki belakangnya, maka ia akan berusaha untuk lari, maka hal yang terbaik adalah membiarkannya lari”
http://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2015/04/14/42/988894/mata-uang-patung-raksasa-hingga-pahatan-wajah-1a0.jpg
Demikianlah biografi Abraham Lincoln, koleksi kata bijak Abraham Lincoln sepanjang masa. Kumpulan kata bijak Abraham Lincoln, kata mutiara Abraham Lincoln lainnya akan ditulis pada kesempatan lainnya. Semoga memberi inspirasi dalam kehidupan kita

Sabtu, 02 Mei 2015

Tumpukan Batu di Tengah Hutan

Bukit Batu 
https://tyaskeju.files.wordpress.com/2010/05/dsc00077.jpgBerada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan
(Tengah), seperti berada di tempat
yang mustahil. Berada di atas Bukit
Batu dengan segera orang akan
membayangkan dari mana batu-batu
besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari
Sungai Katingan yang jaraknya cukup
jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-
batu itu bekas dari puing-puing
kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak
ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka
dari hutan belantara. Berada di Bukit
Batu seperti berada di satu tempat
yang muskil terjadi. Karena Bukit Batu
sulit dijelaskan melalui fenomena alam
dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit
Batu menghadirkan sistem keyakinan
tersendiri bagi masyarakat setempat
dan mempunyai legenda untuk
meneguhkan keberadaan Bukit Batu,
yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.
Nama Bukit Batu bukanlah nama
asing bagi orang Kalimantan,
setidaknya untuk Kalimantan Tengah.
Memang, Bukit Batu terletak di desa
Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang
bergulir pada masa silam, seorang
yang bernama Burut Ules tinggal di
desa Tumbang Linting. Burut Ules
dikenal sebagai seorang yang
mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa
setempat disebut sebagai bakaji.
Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka
Tarub yang mengambil selendang
salah satu bidadari yang sedang
mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules
menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules,
mengambil besaluka yang di Jawa
dikenal dengan nama jarik. Bukan
hanya sekali dia melihat tujuh dara
yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan
belantara yang sedang ia persiapkan
sebagai tempat tinggal. Ketika dengan
sengaja Burut Ules menunggu sambil
sembunyi disemak-semak, tujuh dara
yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan
seluruh pakaian semuanya mandi di
telaga. Burut Ules tidak menyia-
nyiakan kesempatan itu, yang
mungkin tidak akan datang lagi, pada
saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut
Ules muncul dari semak-semak
langsung memeluk buah hatinya,
yang tak lain bungsu dari para
bidadari.
Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk
menjaga agar tidak kembali ke
tempatnya, Burut Ules
menyembunyikan pakaian dara yang
dipersunting itu. Sampai pada
klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak,
Burut Ules tidak bisa menerima
kehadiran seorang anak muda,
mamut menteng, yang dikenalkan
istrinya sebagai saudaranya, lantaran
terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan
anaknya yang masih bayi, akhirnya
Burut Ules membunuh pemuda itu.
Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules
marah dan pergi meninggalkan
suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi
istrinya sempat menyampaikan pesan,
bahwa kelak kalau dewasa anak laki-
lakinya akan kembali ke alam
ayahnya karena dia tidak bisa tinggal
di alam ibunya. Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila
Ambun Triwati Suseno dalam
bukunya yang berjudul "Manaser
Panatau Tatu Hiang, Menyelami
Kekayaan Leluhur" menutup kisah
Burut Ules dengan menulis: "Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang
Kasongan, terdengar suara gemuruh
halilintar memekakkan telinga. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyhXd6KBGurdqFfLNOQMdy8ffghXAmIZysjCxQ_DODWvsxycSVgMjJh_RE6n6AUxiCWUBPrqmIVZa4QK-nHkFQjsIWETCX_iEjNmfZEKTt5PCWU95RiPIlDv1tSp-ekE3sgnT1rq2RkEA/s720/IMG_1402.JPGPetir
kilat sambar menyambar. Saat itu
sebuah batu besar diturnkan dari
langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri
pertamanya, saat itu telah dewasa.
Sesuai janji, apabila telah dewasa ia
akan kembali ke alam bapaknya
bertempat tinggal, maka janji itu telah
ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan
nama Bukit Batu dan diyakini sebagai
tempat kediamannya, walau tak
terlihat dengan mata jasmani, namun
ia ada di sana sebagai Raja dan
penguasa daerah tersebut…" Sebagaimana legenda yang tidak
menunjuk waktu peristiwa. Legenda
Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak
bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi
diyakini sebagai sungguh terjadi.
Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang
mempunyai jenis kelamin laki-laki.
Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut
mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah
Tjilik Riwut, menginginkan
mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki
selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut
Dahiang bertapa, dalam bahasa
setempat disebut sebagai balampah
untuk memohon kepada Hatalla
(Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. 

 Wangsit yang diperoleh
dalam pertapaan itu ialah, bahwa
anak laki-laki Riwut Dahiang yang
akan dilahirkan kelak akan
mengemban tugas khusus untuk
masyarakat sukunya. Tjilik Riwut dalam masa
pertumbuhannya hampir tidak pernah
melupakan Bukit Batu. Dalam usia
yang masih belia, Tjilik Riwut biasa
pergi meninggalkan teman
bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya
sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan
menuju Bukit Batu untuk melakukan
apa yang dulu pernah dilakukan oleh
ayahnya, Riwut Dahiang.
Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut
melakukan apa yang disebut sebagai
balampah (semedi, bertapa). Di tempat
yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut
bersemedi untuk merenungkan
kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi- lagi mendapat wangsit seperti yang
pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit
yang pertama diperoleh ialah, supaya
Tjilik Riwut menyeberang laut untuk
menuju Pulau Jawa. Hampir sulit
wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di
Kalimantan masih sangat lemah untuk
menuju Jawa, sehingga bisa
dikatakan mustahil, apalagi harus
ditempuh dari desa Kasongan di mana
Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di
pulau yang sama dengan Kalimantan,
pada waktu itu bukan main susahnya.
Bukit Batu sekarang dikenal dengan
nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”.
Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah
sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten
Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk
menunu ke Bukit Batu dari Palangka
Raya bisa menggunakan transportasi
umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak
terlalu sering, sehingga terasa lama
dalam menunggu. Sebagai salah satu
obyek wisata Kalimantan Tengah
umumnya, dan di Kabupaten Katingan
khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek
wisata, Bukit Batu memilik “jejak
sejarah” terhadap terbentuknya
Kalimantan Tengah. Bukit Batu Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan
(Tengah), seperti berada di tempat
yang mustahil. Berada di atas Bukit
Batu dengan segera orang akan
membayangkan dari mana batu-batu
besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari
Sungai Katingan yang jaraknya cukup
jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-
batu itu bekas dari puing-puing
kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak
ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka
dari hutan belantara. Berada di Bukit
Batu seperti berada di satu tempat
yang muskil terjadi. Karena Bukit Batu
sulit dijelaskan melalui fenomena alam
dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit
Batu menghadirkan sistem keyakinan
tersendiri bagi masyarakat setempat
dan mempunyai legenda untuk
meneguhkan keberadaan Bukit Batu,
yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.
 
Nama Bukit Batu bukanlah nama
asing bagi orang Kalimantan,
setidaknya untuk Kalimantan Tengah.
Memang, Bukit Batu terletak di desa
Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang
bergulir pada masa silam, seorang
yang bernama Burut Ules tinggal di
desa Tumbang Linting. Burut Ules
dikenal sebagai seorang yang
mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa
setempat disebut sebagai bakaji.
Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka
Tarub yang mengambil selendang
salah satu bidadari yang sedang
mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules
menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules,
mengambil besaluka yang di Jawa
dikenal dengan nama jarik. Bukan
hanya sekali dia melihat tujuh dara
yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan
belantara yang sedang ia persiapkan
sebagai tempat tinggal. Ketika dengan
sengaja Burut Ules menunggu sambil
sembunyi disemak-semak, tujuh dara
yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan
seluruh pakaian semuanya mandi di
telaga. Burut Ules tidak menyia-
nyiakan kesempatan itu, yang
mungkin tidak akan datang lagi, pada
saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut
Ules muncul dari semak-semak
langsung memeluk buah hatinya,
yang tak lain bungsu dari para
bidadari.


Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk
menjaga agar tidak kembali ke
tempatnya, Burut Ules
menyembunyikan pakaian dara yang
dipersunting itu. Sampai pada
klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak,
Burut Ules tidak bisa menerima
kehadiran seorang anak muda,
mamut menteng, yang dikenalkan
istrinya sebagai saudaranya, lantaran
terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan
anaknya yang masih bayi, akhirnya
Burut Ules membunuh pemuda itu.
Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules
marah dan pergi meninggalkan
suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi
istrinya sempat menyampaikan pesan,
bahwa kelak kalau dewasa anak laki-
lakinya akan kembali ke alam
ayahnya karena dia tidak bisa tinggal
di alam ibunya.

 
Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila
Ambun Triwati Suseno dalam
bukunya yang berjudul "Manaser
Panatau Tatu Hiang, Menyelami
Kekayaan Leluhur" menutup kisah
Burut Ules dengan menulis: "Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang
Kasongan, terdengar suara gemuruh
halilintar memekakkan telinga. Petir
kilat sambar menyambar. Saat itu
sebuah batu besar diturnkan dari
langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri
pertamanya, saat itu telah dewasa.
Sesuai janji, apabila telah dewasa ia
akan kembali ke alam bapaknya
bertempat tinggal, maka janji itu telah
ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan
nama Bukit Batu dan diyakini sebagai
tempat kediamannya, walau tak
terlihat dengan mata jasmani, namun
ia ada di sana sebagai Raja dan
penguasa daerah tersebut…" Sebagaimana legenda yang tidak
menunjuk waktu peristiwa. Legenda
Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak
bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi
diyakini sebagai sungguh terjadi.


Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang
mempunyai jenis kelamin laki-laki.
Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut
mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah
Tjilik Riwut, menginginkan
mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki
selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut
Dahiang bertapa, dalam bahasa
setempat disebut sebagai balampah
untuk memohon kepada Hatalla
(Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh
dalam pertapaan itu ialah, bahwa
anak laki-laki Riwut Dahiang yang
akan dilahirkan kelak akan
mengemban tugas khusus untuk
masyarakat sukunya. Tjilik Riwut dalam masa
pertumbuhannya hampir tidak pernah
melupakan Bukit Batu. Dalam usia
yang masih belia, Tjilik Riwut biasa
pergi meninggalkan teman
bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya
sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan
menuju Bukit Batu untuk melakukan
apa yang dulu pernah dilakukan oleh
ayahnya, Riwut Dahiang.

 https://tyaskeju.files.wordpress.com/2010/05/dsc00029.jpg

Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut
melakukan apa yang disebut sebagai
balampah (semedi, bertapa). Di tempat
yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut
bersemedi untuk merenungkan
kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi- lagi mendapat wangsit seperti yang
pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit
yang pertama diperoleh ialah, supaya
Tjilik Riwut menyeberang laut untuk
menuju Pulau Jawa. Hampir sulit
wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di
Kalimantan masih sangat lemah untuk
menuju Jawa, sehingga bisa
dikatakan mustahil, apalagi harus
ditempuh dari desa Kasongan di mana
Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di
pulau yang sama dengan Kalimantan,
pada waktu itu bukan main susahnya.
Bukit Batu sekarang dikenal dengan
nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”.
Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah
sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten
Katingan hanya sekitar 10 Km.

Untuk
menunu ke Bukit Batu dari Palangka
Raya bisa menggunakan transportasi
umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak
terlalu sering, sehingga terasa lama
dalam menunggu. Sebagai salah satu
obyek wisata Kalimantan Tengah
umumnya, dan di Kabupaten Katingan
khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek
wisata, Bukit Batu memilik “jejak
sejarah” terhadap terbentuknya
Kalimantan Tengah.Bukit Batu Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan
(Tengah), seperti berada di tempat
yang mustahil. Berada di atas Bukit
Batu dengan segera orang akan
membayangkan dari mana batu-batu
besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari
Sungai Katingan yang jaraknya cukup
jauh, yaitu sekitar 15 Km2. 

Kalau batu-
batu itu bekas dari puing-puing
kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak
ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka
dari hutan belantara. Berada di Bukit
Batu seperti berada di satu tempat
yang muskil terjadi. Karena Bukit Batu
sulit dijelaskan melalui fenomena alam
dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit
Batu menghadirkan sistem keyakinan
tersendiri bagi masyarakat setempat
dan mempunyai legenda untuk
meneguhkan keberadaan Bukit Batu,
yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.
Nama Bukit Batu bukanlah nama
asing bagi orang Kalimantan,
setidaknya untuk Kalimantan Tengah.
Memang, Bukit Batu terletak di desa
Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang
bergulir pada masa silam, seorang
yang bernama Burut Ules tinggal di
desa Tumbang Linting. Burut Ules
dikenal sebagai seorang yang
mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa
setempat disebut sebagai bakaji.
Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka
Tarub yang mengambil selendang
salah satu bidadari yang sedang
mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules
menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules,
mengambil besaluka yang di Jawa
dikenal dengan nama jarik. Bukan
hanya sekali dia melihat tujuh dara
yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan
belantara yang sedang ia persiapkan
sebagai tempat tinggal. Ketika dengan
sengaja Burut Ules menunggu sambil
sembunyi disemak-semak, tujuh dara
yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan
seluruh pakaian semuanya mandi di
telaga. Burut Ules tidak menyia-
nyiakan kesempatan itu, yang
mungkin tidak akan datang lagi, pada
saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut
Ules muncul dari semak-semak
langsung memeluk buah hatinya,
yang tak lain bungsu dari para
bidadari.
Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk
menjaga agar tidak kembali ke
tempatnya, Burut Ules
menyembunyikan pakaian dara yang
dipersunting itu. Sampai pada
klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak,
Burut Ules tidak bisa menerima
kehadiran seorang anak muda,
mamut menteng, yang dikenalkan
istrinya sebagai saudaranya, lantaran
terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan
anaknya yang masih bayi, akhirnya
Burut Ules membunuh pemuda itu.
Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules
marah dan pergi meninggalkan
suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya.

 https://tyaskeju.files.wordpress.com/2010/05/dsc00058.jpg
 Sebelum pergi
istrinya sempat menyampaikan pesan,
bahwa kelak kalau dewasa anak laki-
lakinya akan kembali ke alam
ayahnya karena dia tidak bisa tinggal
di alam ibunya. Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila
Ambun Triwati Suseno dalam
bukunya yang berjudul "Manaser
Panatau Tatu Hiang, Menyelami
Kekayaan Leluhur" menutup kisah
Burut Ules dengan menulis: "Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang
Kasongan, terdengar suara gemuruh
halilintar memekakkan telinga. Petir
kilat sambar menyambar. Saat itu
sebuah batu besar diturnkan dari
langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri
pertamanya, saat itu telah dewasa.
Sesuai janji, apabila telah dewasa ia
akan kembali ke alam bapaknya
bertempat tinggal, maka janji itu telah
ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan
nama Bukit Batu dan diyakini sebagai
tempat kediamannya, walau tak
terlihat dengan mata jasmani, namun
ia ada di sana sebagai Raja dan
penguasa daerah tersebut…" Sebagaimana legenda yang tidak
menunjuk waktu peristiwa. Legenda
Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak
bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi
diyakini sebagai sungguh terjadi.
Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang
mempunyai jenis kelamin laki-laki.
Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut
mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah
Tjilik Riwut, menginginkan
mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki
selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut
Dahiang bertapa, dalam bahasa
setempat disebut sebagai balampah
untuk memohon kepada Hatalla
(Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh
dalam pertapaan itu ialah, bahwa
anak laki-laki Riwut Dahiang yang
akan dilahirkan kelak akan
mengemban tugas khusus untuk
masyarakat sukunya. Tjilik Riwut dalam masa
pertumbuhannya hampir tidak pernah
melupakan Bukit Batu. Dalam usia
yang masih belia, Tjilik Riwut biasa
pergi meninggalkan teman
bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya
sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan
menuju Bukit Batu untuk melakukan
apa yang dulu pernah dilakukan oleh
ayahnya, Riwut Dahiang.
Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut
melakukan apa yang disebut sebagai
balampah (semedi, bertapa). Di tempat
yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut
bersemedi untuk merenungkan
kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi- lagi mendapat wangsit seperti yang
pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit
yang pertama diperoleh ialah, supaya
Tjilik Riwut menyeberang laut untuk
menuju Pulau Jawa. Hampir sulit
wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di
Kalimantan masih sangat lemah untuk
menuju Jawa, sehingga bisa
dikatakan mustahil, apalagi harus
ditempuh dari desa Kasongan di mana
Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di
pulau yang sama dengan Kalimantan,
pada waktu itu bukan main susahnya.
Bukit Batu sekarang dikenal dengan
nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”.
Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah
sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten
Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk
menunu ke Bukit Batu dari Palangka
Raya bisa menggunakan transportasi
umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak
terlalu sering, sehingga terasa lama
dalam menunggu. Sebagai salah satu
obyek wisata Kalimantan Tengah
umumnya, dan di Kabupaten Katingan
khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek
wisata, Bukit Batu memilik “jejak
sejarah” terhadap terbentuknya
Kalimantan Tengah.


 

 

 

Jumat, 01 Mei 2015

Kau Cantik Bagai Burung Haruei

Burung Haruei atau Kuau Besar Si Raksasa dengan Seratus Mata.

Burung haruei selain berukuran sangat besar pun memiliki bulu bermotif bundaran-bundaran menyerupai mata berwarna cerah dan berbintik-bintik keabu-abuan, apalagi ketika bulu ekornya dikembangkan. Karena itulah Carolus Linnaeus kemudian memberikan nama ilmiah Argusianus argus kepada burung kuau raja. Argus sendiri merupakan sosok raksasa bermata seratus dalam mitologi Yunani.
Argusianus argus ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Great Argus. Sedangkan dalam bahasa lokal, burung yang di Indonesia mendiami pulau Sumatera dan Kalimantan ini selain dikenal sebagai kuau juga kerap dipanggil Haruei / Juei
Ketenaran Kuau Melayu di pedalaman Kalimantan Tengah menjamin keman­tapan pemilihan jenis ini menjadi jenis fauna lambang daerah. Habitat Kuau Melayu terdapat banyak di Kalimantan Tengah.
Burung kuau raja atau kuau besar jantan tengah menampilkan tarian untuk merayu betina


Bulu tubuh Haruei berwarna dasar kecoklatan dengan bundaran-bundaran berwarna cerah serta berbintik-bintik keabu-abuan. Kulit di sekitar kepala dan leher pada burung jantan biasanya tidak ditumbuhi bulu dan berwarna kebiruan. Pada bagian belakang kepala burung betina terdapat bulu jambul yang lembut. Paruh berwarna kuning pucat dan sekitar lobang hidung berwarna kehitaman. Iris mata berwarna merah. Warna kaki kemerahan dan tidak mempunyai taji.

Suara burung kuau raja sangat keras sehingga dapat terdengar dari jarak lebih dari satu mil. Kicauan burung ini berbunyi “ku-wau”. Mungkin lantaran itu kemudian burung ini mendapatkan nama ‘kuau’.

Haruei hidup di permukaan tanah. Walaupun burung Haruei bisa terbang jarak pendek, namun kemampuan mereka untuk berlari sangat baik. Selain itu, burung haruei memiliki penciuman dan pendengaran yang sangat tajam ini menjadikannya sukar ditangkap. Membuat sarang di permukaan tanah. Dan makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput,  semut dan berbagai jenis serangga.

Kehidupan masyarakat Dayak begitu menyatu dengan burung ini. Ia selalu hadir dalam berbagai prosesi. Biasanya, digunakan sebagai hiasan kepala. Selain itu juga digantung pada Mandau, senjata khas.
hampir setiap adat ataupun acara setiap tetua adat menggunakan bulu burung haruei di kepala, selain itu pengantin wanita dayak juga menggunakan bulu burung haruei sebagai hiasan kepala, taukah kalian bahwa dalam keseharian burung haruei merupakan burung yang pembersih. Salah satu yang unik adalah saat menjelang kawin. Seperti burung merak, Haruei jantan akan memamerkan tarian di depan kuau betina dengan mengembangkan bulu sayap dan ekor. Bulu ekor akan mengembang seperti kipas dengan dua bulu ekor terpanjang tegak menjulang di tengah-tengah ‘kipas raksasa’ tersebut. Perlahan-lahan ‘kipas raksasa’ tersebut ditarik ke depan sehingga tubuh, kepala dan kakinya tersembunyi di balik bulu. Kemudian kipas itu digetarkan sehingga menimbulkan suara gemerisik. pada masa kawin burung haruei akan membersihkan area yang akan menjadi sarangnya, disitu burung haruei jantan akan mengembangkan sayapnya menggoda haruei betina. oleh sebab itu pula bulu burung haruei sering digunakan dalam acara adat. ditambah lagi keindahan dari corak bulu yang panjang. https://lh5.googleusercontent.com/-ThaCWWR78R0/UNK0wSyl3DI/AAAAAAAAC7s/DH4xSdwnR7s/s800/Kuau%2520Besar%2520Argusianus%2520argus.jpg
Burung Haruei atau kuau besar (Argusianus argus) hidup tersebar di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Thailand, Myanmar, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Habitat yang disukainya adalah hutan primer di dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl.


Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Galliformes; Famili: Phasianidae; Genus: Argusianus; Spesies: Argusianus argus.



sumber: http://alamendah.org/2012/04/07/burung-kuau-raja-si-raksasa-seratus-mata